Bagai sekuntum bunga pada wanginya. Aku terikat pada kenangan samar tentangmu.
Aku hidup dengan perih yang mirip luka.
Jika kau sentuh aku, kau kan merusakku hingga mustahil di perbaiki.
(Il Postino—Antonio Skarmeta)
Pernah suatu hari dalam sebuah perjalanan pulang, saya melihat di pinggiran kota paling Barat pulau Jawa ini masih ada seorang petani tua yang tengah menggarap sawah. Seekor kerbau terlihat lelah yang terus di pacu oleh sang petani dipaksa untuk menarik bajak. Tidak banyak yang di bajak, hanya beberapa petak. Sudah beberapa tahun ini saya tidak lagi melihat para petani membajak sawahnya. Mungkin karena kemarau panjang yang tidak habis-habis atau malah para petani yang sudah bosan menggarap sawah karena hasil panen yang tidak menjanjikan. Tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang kian hari terasa semakin memberatkan.
Sebuah pemandangan yang sedikit memaksa perhatian saya untuk mengingat bagaimana sebuah potret masa lalu, tentang tanah yang dulu banyak mengantarkan saya kepada kehidupan yang sesungguhnya. Betapa tanah ini telah memberikan segalanya, dengan padi-padi yang menghampar, dengan nyiur yang kokoh menjulang, bunga-bunga menyebarkan wangi khas memberikan banyak harapan, yang menjadikan sebuah semangat juang untuk sekedar dapat mempertahankan kehidupan yang sungguh sementara. Anak-anakpun berlarian di pematang, sesekali kakinya tercebur. Mereka berebut untuk mengusir burung-burung perusak padi. Anak-anak begitu senang bermain-main di sawah. Sebuah keindahan yang tidak akan pernah terlupakannya.
Entah akan sanggup bertahan berapa lama lagi petani itu akan terus menggarap sawahnya, sementara pabrik-pabrik dengan gagahnya menjulang menampakkan wajah sinisnya. Tembok-tembok raksasa yang kian menghimpit menunjukkan kebesarannya di bawah sawah-sawah yang hanya tinggal beberapa petak. Belum lagi limbah-limbah pabriknya yang mengeluarkan bau bacin yang pembuangannya juga tidak pernah beres. Apa yang tengah di perbuat oleh manusia-manusia pabrik itu, sungguh telah benar-benar menjadi budak. Suasana di tanah ini sudah berbeda sekali, tidak ada ketenangan yang ada hanya ketegangan-ketegangan, kedamaianpun berwajah muram terancam oleh arus yang sangat besar yang membawa semuanya ke dalam mimpi indah yang di sebut modernisme. Tidak ada tradisi, kebiasaan adat istiadat tergadaikan, norma-norma sudah tidak berlaku lagi. Dan inilah kemuraman itu.
***
Pemandangan petani itu juga mengingatkan saya kepada cerita seorang penulis, seorang budayawan Umar Kayam yang menceritakan tentang Mandra yang seorang penduduk desa Kamasan, sebuah desa kecil di daerah Klungkung Bali. Mandra adalah warga biasa dari satu desa, yang seperti berratus desa lainnya di Bali sangat pertanian sifatnya. Dia bercocok tanam, dia melukis, dia menolong menyelesaikan detail lukisan rekan-rekannya yang kurang mahir, dia mengajar melukis anak-anak desanya yang ingin belajar melukis, dia ikut menabuh gamelan pada waktu pesta-pesta upacara di desanya, dia ikut membantu menghias pura pada waktu odalan. Pendek kata, dia adalah warga yang lengkap dari satu kosmos kecil yang bernama Kamasan, dan dari satu kosmos yang lebih besar yang di sebut Bali.
Mandra memanifestasikan kesenian sebagai satu cara manusia untuk menata kembali, menafsir kembali kehidupan lewat berbagai imaji dengan cara yang dirasakan paling mesra. Betapa tidak, sehari-hari dia tidak pernah lepas dari bahasa kehidupan lingkungannya. Penyerahannya yang total terhadap tuntutan desanya yang masih tradisional itu, dia jabarkan dengan setianya, baik kepada tuangan lukisannya maupun kepada sikapnya sebagai seorang seniman. Tidak satupun dari lukisannya itu yang tidak bercerita tentang kehidupan lingkungannya. Cerita-cerita Mahabharata, Ramayana, Bayut, Suthasoma, imaji-imaji kosmis, kodok-kodok, burung-burung, ikan dan kura-kura—satu rentetan yang seakan tiada habisnya. Dia menata kembali kehidupan Kamasan dalam kanvas blacunya.
Dalam setiap lukisan yang Mandra selesaikan, para warga desa Kamasan yang menghayati lukisan tradisioanal akan menyatakan sesuatu lukisan itu “indah” atau “buruk” atas dasar rasa “senang” atau “tidak senang” sesudah dia menimbang kaitan unsur-unsur bentuk itu adalah rangkaian imaji yang sebelumnya sudah terjalin antara unsur-unsur yang membangun kosmos Kamasan itu. Maka kalau warga desa Kamasan menyatakan bahwa lukisan itu adalah representatif dari rangkaian unsur-unsur yang membentuk Bima Swarga itu cocok dengan imaji yang telah mereka perolah sejak kecil lewat berbagai macam penghayatan. Seketika mereka merasa senang, karena mungkin mengenali kembali Bima yang penuh dengan emosi mengosak asik kayangan mencari bapaknya, menuntut penjelasan dari para Dewa. Bila mereka tidak mengolah kembali imaji Bima yang begini, maka mungkin sekali mereka itu akan segera saja merasa tidak cocok, tidak senang, dan akan menyatakan lukisan itu buruk.
***
Kalau kita mencoba renungkan baik-baik, maka apa yang menjadi kecocokan antara warga desa Kamasan dengan lukisan Mandra itu adalah persesuaian antara penghayatan warga desa itu tentang kehidupan dunia Kamasan dengan penterjemahan Mandra tentang dunia Kamasan. Jadi apresiasi di lingkungan seperti itu adalah konfirmasi. Dalam satu lingkungan dimana keseimbangan antara unsur-unsur yang mendukungnnya itu dijamin oleh ikatan agama beserta ritusnya dan bentuk mata pencariaan yang tidak rumit bahkan hampir manunggal (pertanian), maka apreasi seni yang bersifat konfirmasi terhadap keutuhan lingkungan, dimungkinkan. Apresiasi seni dengan demikian “dengan sendirinya” hadir. Dan yang memungkinkan ini adalah rangkaian ikatan agama dan pertanian itu. Maka bagaimana pun jenius seorang Mandra itu, dia akan selalu melukis tentang simbol-simbol mitos dan flora dan fauna lingkungannya.
Berbeda dengan kehidupan Mandra di desa Kamasan sebuah daaerah kulungkung Bali, yang menerjemahkan kehidupannya dengan kanvas-kanvas. Di pinggiran kota ini tidak ada lagi potret “keindahan” yang terekam. Sebuah gambaran keindahan yang menjadi identitas sebuah kehidupan bermasyarakat, semuanya menjadi aneh, samar dan menjadi asing. Yang ada hanya berserakan kandang-kandang kerbau sudah tidak terpakai yang di penuhi semak. Yang kemudian muncul adalah tafsir-tafsir keindahan baru, identitas-identitas baru yang sebenarnya patut juga dipertanyaan, sebuah representatif dari kebiasaan-kebiasaan asing yang sebenarnya juga keberadaaannya sangat dipaksakan.
Lantas bagaimana dengan sebuah penghayatan akan sebuah rasa “keindahan” yang menuntut kejujuran dan ketulusan yang keluar dari setiap orang. Seperti juga dimana-mana, rasa dan penghayatan “keindahan” itu lahir dari rasa “senang” yang muncul sesudah melihat kaitan unsur-unsur tertentu. Atau menurut Sir Herbert Read, guru besar dan pengamat kesenian yang terkenal dari inggris, keindahan adalah kesatuan dari hubungan-hubungan resmi antara rasa penghayatan kita. Manusia selalu cenderung menanggapi dengan inderanya, apa-apa yang terpapar di depannya. Apa-apa itu yang memiliki bentuk dan unsur-unsur yang menyangka bentuk itu mungkin sekali akan memberikan rangsang “rasa senang” atau “cocok” kepada si penghayat itu. Pada waktu ia merasakan “senang” atau “cocok” itu, saat itulah ia melihat “keindahan” dari benda itu. Sebaliknya, pada waktu ia merasa “ tidak senang,” “tidak cocok,” maka dia melihat “keburukan” benda itu.
Akh, di pinggiran kota ini semuanya menjadi asing, saya melihat ada banyak hal-hal aneh yang membentuk seperti kegelisahan yang sangat. Mesin-mesin besar, raksa-raksa berwajah bengis telah menggantikan sebuah nilai-nilai kearifan lokal. Manusia menjadi kehilangan makna hidup disebabkan begitu sombong telah meruntuhkan tradisi. Kini tradisi telah benar-benar terdorong ke bibir-bibir marjinalitas, sehingga nyaris tidak mampu untuk sekedar memperdengarkan pekik-pekik keindahan dan kesakralannya. Dimanakah kemudian hakikat alam dapat di temukan, dimana nilai-nilai dasar tentang keindahan yang sesungguhnya dapat dirasakan.
***
Sebenarnya Mandra dan petani tua itu memiliki kesamaan, yang menekankan pada pemaknaan terhadap kebiasaan pola hidup masyarakat. Bagaimana kehidupan ini dapat dimaknai lebih dari sekedar berkesenian, bahwa kehidupan lebih dari sekedar mengolah sawah untuk ditanami dan kemudian di panen, tapi lebih dari itu sebuah tanggung jawab kolektif mengharuskan untuk tetap menjaga dan merawat tanah ini tidak hanya untuk saat ini saja, tapi jauh kedepan bahwa ini adalah tanggung jawab besar untuk dapat terus di pertahankan dan di rawat dengan baik sampai nanti dan lama.
Sesekali tradisi dan kebiasaan tidak melulu dianggap menjadi hal yang membuat manusia menjadi sadar terhadap keberadaan yang sakral karena ia memanifestasikan dirinya, menunjukkan dirinya, sebagai sesuatu yang berbeda secara menyeluruh dari yang bersifat profan. Tetapi sebuah gambaran masa lalu yang merasa mewakili pola kehidupan sebuah masyarakat, dapat menjadikan representatif dari kagiatan-kegiatan yang telah dan akan di lakukannya.
Manusia yang hidup dalam masyarakat yang arkais cenderung hidup sebisa mungkin dalam kesakralan atau dekat dengan objek suci. Maka atas dasar itulah Mandra dan sang petani tua itu terus membangun sebuah kebiasaan lama yang sarat akan nilai-nilai untuk mencoba tetap berada dalam kekonsistenan dan dijadikannya semua itu sebagai sebuah sikap hidup dan sebuah pilihan hidup.
Sampai akhirnya saya melihat petani tua itu berjalan menyusuri pinggiran jalan raya yang kanan kirinya di apit oleh pabrik-pabrik kimia dan pabrik-pabrik baja serta pabrik-pabrik besar lainnya yang berjejer di seturut jalan. Dengan memikul bajak di pundaknya petani tua itu tetap mengarahkan kerbaunya untuk tetap berjalan dipinggir jalan yang banyak berseliweran mobil-mobil besar-kecil yang mengeluarkan asap hitam mengepul mengibaskan debu-debu. Dengan rasa penuh keterasingan akhirnya saya melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan kepada petani tua itu. Selamat jalan pak tani semoga kau sehat selalu dan senantiasa dalam keadaan baik-baik saja. Semoga..... [hf]
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Jurnal Basement, Univ. Pasundan Bandung
Cilegon-Selat Sunda November 2004
-HF-